Tampilkan postingan dengan label Meneropong Mata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Meneropong Mata. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Juni 2014

Meneropong Mata Mengenal Lebih Dekat Indonesia (Edisi 3 Juni 2014)


Museum Geologi 

Museum Geologi terletak tidak jauh dari Gedung Sate dan masih berada dalam satu kawasan bangunan-bangunan bersejarah. Gedung berada di sisi Jalan Diponegoro No. 57, yang termasuk ke dalam Kelurahan Cihaurgeulis, Kecamatan Coblong. Secara Geografis berada pada koordinat 06º54'03,3" LS dan 107º37'16,9" BT. dan sekitar gedung kini telah banyak berdiri bangunan perkantoran, pemukiman, dan pertokoan. Untuk mencapainya relatif mudah melalui jalan raya dengan kondisi yang baik, menggunakan kendaraan pribadi roda 4 atau 2 ataupun menaiki kendaraan umum (Bis/Angkot) yang melewati kawasan ini relatif banyak.

Museum ini dibangun pada tahun 1928 masa Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda, oleh arsitek WNALDA VAN SCHOLTWENBURG, dan diresmikan pada tanggal 16 Mei 1929 yang bertepatan dengan Kongres Ilmu Pengetahuan se-Pasifik IV di Bandung. Selain sebagai museum, difungsikan pula sebagai labolatorium geologi, dan sampai sekarang
pemanfaatannya tetap sama sesuai fungsinya dan dikelola oleh Museum Geologi/Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, dengan luas gedung ± 3617,08 m² dan luas kawasan ± 8342,52 m². Gedung Museum berbatasan dengan, di sebelah utara: Jalan Surapati, timur: Gedung RRI, selatan: Jalan Diponegoro, barat: Jalan Sentot Alibasa.

Gedung Geologi memiliki gaya arsitektur art deco dengan kesan horisontal yang sangat kuat. Terdiri dari dua lantai dengan arah hadap ke selatan (Jalan Surapati). Museum ini pada awalnya sangat sederhana sehingga dapat dikatakan menyerupai ruang dokumentasi koleksi. Kemudian tahun 1993 telah dilakukan renovasi karena semakin banyaknya koleksi yang dikumpulkan dari hasil penelitian geologi Indonesia yang dimulai sejak tahun 1850, sehingga diperlukan tempat khusus untuk menyimpan dan memamerkan kepada masyarakat luas. Serta meningkatnya jumlah pengunjung yang memerlukan informasi ilmu geologi, khususnya pelajar dan mahasiswa. Renovasi museum geologi atas usaha bersama pemerintah Indonesia dan pemerintah Jepang pada tahun 1998 s.d. Juli tahun 2000 dan diresmikan pada tanggal 22 Agustus 2000 oleh Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri bersamaan dengan Simposium Internasional tentang Museum Geologi.

Museum Geologi memiliki kawasan seluas ± 8342,52 m², dengan luas gedung ± 3617,08 m². Gedung Museum ini berbatasan dengan Utara: Jalan Surapati, Timur: Gedung Dwiwarna, Selatan: Jalan Diponegoro, Barat: Jalan Sentot Alibasya. Koleksi Museum Geologi terdiri batuan dan mineral ± 250.000 buah, koleksi fosil dan lain-lain ± 60.000 buah. Museum Geologi merupakan museum terbesar koleksinya se-Asia Tenggara.

Museum Geologi kini telah menjadi objek pariwisata budaya (geologi) yang relatif ramai dikunjungi oleh kalangan pelajar, mahasiswa dan masyarakat, pada hari biasa maupun hari libur baik dari Bandung maupun luar Bandung.



Meneropong Mata Mengenal Lebih Dekat Batang (Edisi 3 Juni 2014)


Cagar Budaya : Goa Jepang Poncowati Gringsing
Goa Jepang ini berada di hutan Pancawati yang dikenal oleh para pengguna jalan dengan nama Alas Roban. Pancawati diambilkan dari nama kelompok kera yang dipimpin oleh Anoman. Menurut mitos kelompok kera ini dahulu mendiami hutan yang sekarang bernama Pancawati. 

Alas Roban sendiri sebenarnya terletak di kecamatan Subah dan Tulis. Tepatnya kampung Roban Timur di desa Sengon dan Roban Barat di desa Kedungsegog.

Pancawati berada di dukuh Bunderan desa Plelen kecamatan Gringsing. Tepatnya di sebelah selatan jalur lama yang berkelok - kelok. Goa Jepang Pancawati berada di antara 3 bukit yang dipisahkan sungai kecil. Sungai ini dahulu adalah bekas jalan tank milik Jepang.

Goa Jepang dibangun pada tahun 1942 pada saat pendudukan Jepang di Indonesia. Jepang menerapkan kerja paksa Romusha kepada orang pribumi untuk membangun goa - goa tempat perlindungan dan persembunyian tentara Jepang. Banyak orang pribumi yang tewas saat melaksanakan pembangunan goa ini.

Goa Jepang Pancawati berjumlah 13. 3 buah goa di sebelah bukit timur, 10 goa di sebelah bukit utara, 1 goa diatas tebing di sebelah bukit selatan dan 1 buah goa alam di sebelah bukit barat yang disebut dengan nama Goa Telon. Goa Telon juga pernah digunakan oleh tentara Jepang.

(Sumber : www.batanggallery.blogspot.com)


Meneropong Mata Berbicara Bisnis Pintar Karya Mr. James Gwee (Edisi 3 Juni 2014)


Sales Force Management (2)
Keberadaan tim sales person akan mempengaruhi kinerja dan target penjualan perusahaan. Untuk itu, tim sales person harus dikelola dengan sebaik-baiknya.

Aspek-aspek yang perlu diperhatikan agar tim sales berjalan dengan baik antara lain:

1.Dimulai dari tahap select and recrutmen. Pilihlah orang yang tepat. Tentukan profile orang seperti apa yang diinginkan. Sesuaikan dengan kondisi perusahaan, khususnya pada tim sales, karena komposisi tim terus berubah, ada yang direplace dan sebagainya.

2.Orang yang direkrut harus melalui proses orientasi dalam rangka memperkenalkan kondisi dan budaya perusahaan. Hal ini bertujuan untuk menyamakan persepsi sales person yang baru dengan dinamika yang ada, agar mereka sewarna dengan warna tim sales person yang sudah ada.

3.Setelah orientasi, lanjutkan dengan training. Training diperlukan sebagai pembekalan sebelum mereka terjun ke lapangan.

Titipkan sales person batu kepada orang terbaik, dengan harapan dia akan tertular semangatnya. Jangan titipkan sales person kepada bagian lain, meski menitipkannya agar membuatnya nyaman bekerja di sini. Karena hal itu bsia berbahaya, jika sales person tersebut lebih betah berada di kantor. Sales person yang baik adalah yang jarang berada di kantor.

Cara kerja sales person berbeda dengan cara kerja di pabrik. Di pabrik, apa yang direncanakan dengan yang dihasilkan akan sama. Misalnya, sebuah pabrik roti menargetkan memproduksi roti 10.000 roto perhari. Maka target produksi akan sama dengan jumlah produksi hari itu. Sementara pada sales person  tidak bisa seperti itu. Target bertemu dengan 10 prospek, tapi yang closing mungkin hanya 1, bisa 5, atau bisa tidak ada sama sekali.

Untuk itu, penting bagi sales person untuk disiplin terhadap proses. Jika tidak ada hard working target tidak akan tercapai. Penting juga manager untuk melakukan pengukuran dan pemantauan kepada anggota tim nya, karena kemampuan setiap orang berbeda-beda. Jika perlu lakukan coaching one on one. Tujuannya adalah untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan anggota tim. Jika diarahkan dengan baik, maka sales person yang masih banyak kekurangan akan menjadi lebih bersemangat untuk memperbaiki kinerjanya. (am)  



Senin, 02 Juni 2014

Meneropong Mata Merenung Sampai Mati Karya Prie Gs (Edisi 2 Juni 2014)


Karma Kata 

 

Sebutan Monas di hari-hari ini hampir selalu dikaitkan dengan nama Anas Urbaningrum. Bukan karena dua kata itu kebetulan mengandung kesamaan, tapi karena konteks pengucapan yang pernah ada, yaitu “gantung saya di Monas”. Itu kata yang diucapkan Anas saat itu demi meyakinkan publik bahwa dugaan korupsi itu menurutnya tidak benar.

Benar atau tidak itu soal yang tidak menarik untuk dikaji di rubrik ini. Jauh lebih menarik untuk mengamati perjalanan kata-kata itu, karena kata punya rutenya sendiri. Mulut hanya alat produksi kata-kata, bukan pengendali. Begitu kata diucapkan, si pengucap akan kehilangan kekuasaan atas kata-katanya sendiri. Anas tentu tidak membayangkan kalau perjalanan kata-katamya akan menjadi seperti ini. Begitu uga saat hakim membuat metafora “seperti ustad di kampung maling”, untuk mengiaskan sebuah konteks persoalan dalam kiasan.

Tapi apa jadinya jika yang kiasan dan yang nyata tidak mau dibedakan. Secara logis keduanya berbeda. Tapi di pasar bebas kata-kata, yang logis dan yang tidak bisa diatur sekehendaknya. Metafora itu menyinggung sebagian kalangan. Persoalannya siapa ustad dan siapa malingnya.

Yang tersingung akan melihat kata maling dalam arti yang sebenarnya.

Iman kyai saja bisa naik bisa turun. Kiasan ini sedang mengiaskan kemungkinan satu dengan yang lain. Soal iman turun naik bisa menimpa siapa saja, apakah kayi atau petugas pajak.

Menyinggung soal pajak, sulit untuk tidak menyebut nama Gayus. Entah butuh berapa lama untuk menghentikan konotasi antara Gayus dengan persekongkolan pajak. Pertama, karena skala persoalannya yang besar, kedua karena usaha Gayus, sambil di tahanan ia bisa menonton tenis di Bali.

Inilah mengapa ingatan publik yang mereda memanas lagi. Begitu khas kududukan Gayusdengan pajak, sampai-sampai kondektur bus berteriak “Gayus, Gayus..” ketika berhenti di kantor pajak. Guyus pasti tak menyangak jika namanya akan berkembang sejuah ini.

Begitu erat kaitan kata dan karma. Tegasnya, karma kata itu memanng ada walau ini bukan soal yang perlu dicemaskan. Karena karma baru bekerja setelah ada konteks pendorong yang ada disebaliknya. Maka pilihlah selalu konteks yang jauh dari bahaya, sehingga kata itu appaun bunyinya, atau yang kasar sekalipun, menjadi tidak berbahaya.



Meneropong Mata Kata-Kata Motivasi Karya Mario Teguh (Edisi 2 Juni 2014)


 
"Cemburulah, karena itu tanda bahwa cintamu kuat. Tapi pastikanlah dia pantas untuk kau cemburui.

Jika tidak, tinggalkan. Hadiahkanlah cintamu kepada seseorang yang lebih memelihara kedamaian dan keindahan hatimu.

Memang awalnya sulit, tapi itu hanya masalah pembiasaan baru."
— Mario Teguh